Highway, sebuah sinopsis (II)

Screen Shot 2017-10-17 at 2.33.46 PM

“Kalian tahu orang kaya? Kalian masih mau tetap dalam posisi dan diperlakukan seperti ini, terus menjilat kaki mereka, terus menghamba dan memohon belas kasih mereka. Sudah saatnya kita berhenti, acuhkan orang-orang kaya itu, biarkan perempuan ini aku bawa. Terserah nanti mau aku tembak dia atau akan aku jual ke rumah bordil” Mahabir menyalak.

“Kau akan mati seperti anjing” sahut seorang penduduk disitu. “Biarlah anjing mati selalu akan seperti anjing, hidupku sudah ditakdirkan sebagai pembunuh dan mau apa mereka? akan membunuhku berulang-ulang?” balas Mahabir.

Pagi belum menjelang Mahabir pergi meninggalkan kampungnya, dengan membawa sebuah mobil bersama beberapa orang temannya. Sedangkan Alia masih terikat dan mulut tersumpal berjalan terpaksa menuju mobil. Selama perjalanan dia berganti mobil truk guna menghilangkan jejak, sehari penuh Mahabir menghabiskan waktunya diperjalanan menuju utara menemui salah satu temannya. Malam menjelang sampailah Mahabir di tempat temannya, namun jawaban dan rasa khawatir dari temannya membatalkan Mahabir untuk singgah lebih lama disitu. “Kau sudah menggemparkan negri ini dengan menculik putri Tripathi, sekarang mungkin belum ada pencarian kawan namun tidaklah bijak apabila kamu tinggal disini. Aku hanya bisa membantumu memberikan solusi agar kamu tidak terlacak, sekarang segera lepas simcard ponsel wanita itu dan bawalah ia ke arah utara, kemudian ambil teleponnya dan suruh bawa teman kita yang satu itu ke arah berlawanan dan bepergian secara acak sambil kontak Tripathi” sahut temannya. Mahabir pun menyetujui sarannya dan tanpa lama berselang Mahabirpun pergi meninggalkan kediaman temannya bersama Alia dan satu orang temannya, sedangkan satu temannya lagi berpisah kearah berlawanan sesuai rencana.

Berjalan kembali sehari semalam, dan petang menjelang Mahabir sampai di suatu bekas tempat pengolahan garam di pinggiran gurun gersang. Mahabir dan kawan-kawannya beristirahat ditempat tersebut sedangkan Alia dilepaskan diruangan kosong dibelakang bangunan yang sepertinya dahulu dipakai sebagai gudang. Tepat tengah malam semua terlelap dalam kelelahan kecuali Alia tetap terjaga dalam takutnya. Dalam ketakutan dia memberanikan mengintip kondisi diluar lewat jendela kecil berjeruji dan nampak kawanan Mahabir tertidur pulas. Memberanikan diri mencari jalan keluar dan ternyata pintu tempat dia disekap ternyata tidak terkunci, seketika itu juga dia berlari menjauh dari tempat itu, berlari dan terus berlari dalam ketakutan dan putus asa. Sekian lama berlari dia tidak menemukan tanda kehidupan dan hanya padang gurun tak berujung dibatasi langit malam gelap menyeramkan yang terus ia temui. Dalam keputus asaan dan isak tangis ketakutan dia kembali berlari menuju tempat semula, ternyata Mahabir dan teman-temannya sudah menunggu dalam kemarahan yang nampaknya sudah memperkirakan perginya Alia. Belum berhenti lari Alia, Mahabir sudah membentaknya. Dalam lelah dan terkejut Alia jatuh tersungkur.

“Cepat pergi, silahkan berlari… tidak akan ada yang melarangmu saat ini” hardik Mahabir

bersambung…

Advertisements

Highway, sebuah sinopsis (I)Ā 

Mahabir.jpg

Sebut saja dia Mahabir, seorang pria sekira 36 tahun berbadan tegap tidak terlalu tinggi tidak pula pendek. Sejauh ini hidupnya tanpa diselingi senyuman, hanya air muka masam, serius dan perasaan marah mewakili sosok dirinya. Kecilnya tumbuh dalam kekerasan dari ayah yang pemalas sedangkan sang ibu yang selalu diperlakukan kasar dan dipaksa kerja sebagai wanita penghibur oleh ayahnya menjadi pemandangan keseharian.

Tumbuh  remaja juga tidak kalah kelam dibanding masa kecilnya. Keseharian diperkampungan terpencil jauh dari kota dalam tatanan masyarakat yang bobrok dengan kumpulan perampok, pembunuh, pemabuk dan wanita penghibur.

Suatu kali dia melakukan perampokan di sebuah minimarket pompa bensin di pinggiran kota. Perampokan kali ini berhasil dibarengi dengan menyalaknya pistol ditangan dan tumbangnya beberapa orang ditempat itu. Matinya beberapa orang disitu membuatnya semakin nekat dan selang waktu kemudian ada sebuah mobil mewah yang didalamnya terdapat seorang pria dan seorang wanita. Tanpa pikir panjang direbutnya mobil itu dan dipaksanya si pria keluar dari mobil dengan todongan pistol mengarah kekepala si wanita. Dengan kasar dia membentak wanita itu agar diam sembari terus menodongkan pistol dan membawanya lari dengan mobil tersebut. 

Masuk ke tanah kosong dan semak yang luas dia berhenti meninggalkan mobil dengan tujuan menghilangkan jejak. Disumpal, diikat dan dipaksanya berjalan wanita itu menuju ke perkampungan. Dalam ketakutan dan tangis wanita itu menuruti dan terus berjalan kaki menyusuri perkebunan bersemak. Sekira beberapa jam berjalan sampailah di perkampungan dan Mahabir langsung membawa wanita itu ke gudang dirumahnya masih dalam kondisi terikat dan mulut tersumpal. Selang waktu kemudian Mahabir bersama beberapa orang mendatangi wanita itu dengan maksud menanyakan namanya, “Alia, Alia Tripathi…”  dia menjawab lirih dalam ketakukan. Sontak beberapa orang langsung memaksa Mahabir keluar dari gudang begitu mendengar nama Tripathi.

“Tahukah kamu siapa Tripathi, wanita yang kamu culik itu anak orang kaya dan berpengaruh dinegara ini. Menteri, jenderal dan orang berkuasa lainnya dekat dengan ayahnya”.  Demikian penjelasan orang dikampung Mahabir. 

“Kami tidak mau menampungnya disini”, sepakat orang dikampung Mahabir. Kamu sudah mengambil jalan ini jadi nikmatilah risikonya, jangan libatkan kami. Sangat mudah bagi orang tua Alia mencarimu, membunuhmu juga bukan hal yang sulit sahut beberapa orang disitu. “pengecut kalian” teriak Mahabir, “aku akan ambil risikonya dan kalian tetaplah jadi pengecut”  seru Mahabir dengan kasar.

Bersambung… 

Sedikit Pengetahuan Tentang GL 100/125

Honda GL 100 dan GL 125 di Indonesia menjadi salah satu motor dengan lifecycle lumayan panjang. Jika dihitung dari awal rilis versi lampu bulat berpengapian platina dengan penamaan GL 100 – GL 125 ada di tahun 1979 sampai versi CDI berlampu kotak produksi tahun 1996 dan ada testimony terjual sampai dengan tahun 1997 (ini sisaan  sih :D) total selama 18 tahun masa beredarnya. 

Mbahnya Honda Tiger ini bisa dikategorikan MPV (multi purpose vehicle) juga kali ya, dipake perkotaan sampe dijalur pedesaan mampu dijabanin. Bahkan untuk yang GL 125 sangat tangguh untuk diajak nanjak, sayang yang berkubikasi 125 populasinya lebih sedikit. Soal irit jangan ditanya ini motor musuhan sama pom bensin šŸ˜…, karena saya pemakai harian motor ini di Jakarta jadi paham. Bahkan pernah punya rekor dalam seminggu, dari rumah di daerah Pondok Betung pergi-pulang kantor di Kemang isi full to full cuman 20 ribu premium šŸ˜“ tapi umumnya sih kisaran 30 ribu seminggu. 

Oke, lanjut mencoba lebih detil membahasnya. Untuk rilis awal di tahun 1979-1981 GL 100/125 berciri kurang lebih seperti ini:

  • Berlampu depan bulat,
  • Lampu belakang mirip CB,
  • Pengapian platina,
  • Speedometer Nippon Seiki bulat,
  • Logo GL100/125 pada kedua tutup aki ber-icon burung elang mirip dengan logo Honda GL 1000.
  • Spion bulat berbahan besi ada tulisan MS Japan
  • Tangki ada lidah penutup tambahan tidak seperti CB K5,
  • Cakram kiri menggunakan kawat seling,
  • Suspensi depan dan belakang menggunakan merk Showa, 
  • Jok pattern kotak-kotak,
  • Karbu Keihin berventuri 22 tanpa ada pompa tambahan,
  • Ban depan ring 250×18, belakang juga 300×18 merk IRC Inoue
  • Varian warna resmi: Hitam, Putih, Merah, Coklat, Biru, Hijau, Silver dengan variasi striping.

2031409_20120728063718IMG_4720

Lanjut rilis berikutnya di tahun 1982-1987 untuk GL 100 dan GL 125 antara tahun 1982-1983 berciri kurang lebih seperti ini:

  • Berlampu depan kotak,
  • Lampu belakang kotak, sama seperti punya honda win dan honda super cub,
  • Sein kotak, sama seperti punya honda win dan honda super cub,
  • Pengapian platina,
  • Speedometer Nippon Seiki bulat,
  • Logo GL100/125 pada kedua tutup aki lebih sederhana hanya berbentuk tulisan GL 100/125, 
  • Spion kotak segi empat berbahan plastik, 
  • Tangki ada lidah penutup tambahan tidak seperti CB K5,
  • Cakram kiri menggunakan kawat seling,
  • Suspensi depan dan belakang menggunakan merk Showa, 
  • Jok pattern kotak berpadugaris lurus vertikal kl diliat dari samping motor,
  • Karbu Keihin berventuri 22 dengan pompa tambahan,
  • Ban depan ring 250×18, belakang juga 300×17 merk IRC Inoue
  • Varian warna resmi: Hitam, Merah dengan variasi striping juga.

1701760_20140515120215.jpg

Dan yang terakhir di tahun 1987-1996 sudah tidak ada rilis GL 125 hanya ada GL 100 berciri kurang lebih seperti ini:

  • Berlampu depan kotak,
  • Lampu belakang kotak, sama seperti punya honda win dan honda super cub,
  • Sein kotak, sama seperti punya honda win dan honda super cub,
  • Logo GL100 pada kedua tutup aki lebih sederhana hanya berbentuk tulisan GL 100.
  • Pengapian CDI,
  • Speedometer KGD kotak,
  • Spion segi lima berbahan plastik sama dengan punya honda astrea Prima dan Honda Tiger 2000 (awal)
  • Tangki ada lidah penutup tambahan tidak seperti CB K5,
  • Cakram kiri menggunakan kawat seling,
  • Suspensi depan dan belakang menggunakan merk Showa, 
  • Jok pattern kotak berpadu garis lurus vertikal kl diliat dari samping motor,
  • Karbu Keihin berventuri 22 dengan pompa tambahan,
  • Ban depan ring 250×18, belakang juga 300×17 merk IRC Inoue
  • Varian warna resmi: Hitam, Merah dengan perbedaan warna striping juga.

14333031_10207748493372525_7150006304424221612_n.jpg

gl abang.jpg

Untuk feeling berkendaranya, motor honda berkode GL bisa disamaratakan itu: nyaman, gak cepet capek, posisi berkendara rileks, bukan motor yang mengutamakan performa, kuat nanjak, irit bahan bakar. 

Demikian sedikit pengetahuan newbie yang bisa di-share, nanti kalau ada info tambahan atau ada revisi artikel ini akan update trusss sampe konkrit bin lengkap.

Terima kasih…

beda-honda-gl-max-gl-100-dan-gl-pro-6.jpg

Image Ā© pribadi dan googling. 

Menafikkan orang lain

Salam… 

Terkadang ketika kita ada di satu posisi yang lebih baik, timbul lupa seringkali dianggap mahfum. Namun apabila sudah bercampur dengan ego dan dendam maka hal itu sangat merugikan, baik dari sisi sendiri maupun sesama. Bahkan dari percampuran tadi bisa muncul sikap hilangnya empati bahkan menafikkan orang lain. 

Bung kenapa ada preambul tersebut? Karena saya mengalaminya. Bukan sebagai pelaku, bukan korban hanyalah sekedar saksi… , dan saksi itu lebih bisa berpendapat netral karena tanpa ada distorsi akibat ego merasa paling benarnya pelaku atau rasa tertekan dari korban.

Sungguh rugi apabila komposisi dari posisi “berkuasa” ditambah ego dan diberi topping dendam terus dilakukan dan dinikmati, tanpa sadar kita sudah mencoreng kotor muka sendiri. Dan nantinya baru merasa kapok dan sadar apabila bertukar posisi sebagai korban atau orang sekitar sudah menjauhi karena ulah sikapnya sendiri.

Tidak nyaman… Itulah yang dirasa pasti oleh sekitarannya, risih tentu saja. Namun ketika komposisi tadi sudah bercampur sempurna susah, susah sekali untuk kembali normal. Ah, kita ini kecil sekali, apa sih yang pantas kita banggakan, TIDAK ADA.

Naudzubillah, jauhkan saya dari sikap antipati, hilang empati, acuh, merasa berkuasa, pendendam, merasa benar dan menafikkan orang lain. Amin. 
#selfreminder

Njajal Yamaha X-Max 250 dan Aerox 155 VVA

Hi bung dan nona sekalian šŸ˜Ž, njajal nulis artikel meneh tentang “njajal X-Max 250 dan Aerox 155 VVA” 

Pertama: tentang X-Max, ini motor matic Guambot bin besar untuk ukuran matik di Indonesia, kalau biasa make yang vario, N-Max siapĀ² diintimidasi sama ukuran dan beratnya. Untuk harian dan bermacet ria tidak disarankan, kalau untuk turing ini batu ajiiibbbb. Pertama naik posisi nyaman khas matic Yamaha Max series, kaki selonjoran posisi tangan rileks. Kaki gw masih bisa nopang sempurna gak jinjit balet. Cuman karena body gede dan gambot jadi mesti adaptasi daaannnn kalo sudah jalan sih uenak. Dan inget harus membiasakan diri pas belok ambil posisi melebar dan badan disesuaikan mengimbangi kemiringan kendaraan, jangan maen tekuk stang kayak bawa motor kecil kalo gak ya…. SiapĀ² “jatuh bego”. Mesin… Halus, minim getaran, torsi nampol (iyalah 250cc šŸ˜„) tapi gak ngagetin penyaluran tenaganya yaaaa khas matic lah, top speed gk ngejer dapet brp soale tempat test ride seuprit. Bagasi gede abis, bisa buat bawa 2 helm ato buat tandon aer juga boleh, luasss yang pasti. 

Sekarang Aerox 155 VVA, ini motor menurut gw worth to buy, teknologi mesin lebih advance dari sodaranya (N-Max) speedo full digital, suspensi menurut gw lebih empuk dr Nmax, lampu LED, bagasi luas, Ban depan belakang lebar dan tubeless, jok juga empuk dan tampang gahar. Cumaaannn gak bs selonjoran nikmat khas Max series, body cenderung sporty dengan jok bertingkat tapi gk misah, pas nyoba bawa nyonya kita sebagai boncenger, agak susah saking tingginya jok belakang. Soal mesin uenak tarikan Aerox 155 dibanding vario 150 menurut saya, inget menurut saya loh yaaa. Harga variatif soale ada 3 jenis aerox 155, yang pasti harga bermain di kisaran harga vario 150.

Saporanah Gusteh

Alhamdulillah,

Tak asokkor, tak ketelak cukuppah abek, sobungĀ saderreh abek kalaben oreng se korang, se etegguh ning oreng se cokop, oreng sogih, oreng se andik kalebbien, duh saporanah gusteh Alloh.

Alhamdulillah abek sehat, engak e bektoh setiah bedeh oreng se sake’, alhamdulillah abek andik sokoh bisah ajelen sae, bennya’ oreng se terro sarah andik sokoh, terrong sarah bisah ajelen sae. Alhamdulilah paggun andik sepeda maseh la sepeda konah, bennyak oreng se aderek ka mahdekmah.

Mogih-mogih abek Istiqomah e jelen se loros. Saporanah gusteh Alloh.

BIARKAN WAJAHNYA TEDUH TAK BERALIS PENSIL

 

Semakin bertambahnya usia membuat kita semakin sadar kekurangan diri, semakin mawas diri, semakin bersahaja, semakin memahami apa sebenar-benarnya hal hakiki yang kita cari selama ini. Tentu dengan dasar keilmuan, pengetahuan keagamaan, pengalaman hidup serta cambukan peristiwa yang tidak menyenangkan semakin membakukan hal tersebut.

 

Suatu malam saya masih sibuk dengan hobby dan juga mengisi waktu diteras rumah, kisaran waktu pukul 21.30 terus berjalan tidak terasa dan terlupa saya acuhkan keadaan perut yang kosong. Sampai ada bunyi penjual siomay keliling denganĀ sepeda kayuhnya lewat sehingga menyadarkan diri akan kosongnya perut yang belum terisi. Sayapun pesan seporsi dagangannya, dengan semangat beliau melayani pesanan saya hingga hidangan siap disajikanĀ ke saya, tidak menunggu lama untuk memulai suapan pertama irisan pare pahit sebagai pembuka.

 

Guna mencairkan suasana di malam yang mulai sepi tersebut saya mulai membuka pembicaraan dengan posisi bapak penjual somay yang sibuk membenarkan posisi berdiri sepedanya. “Bapak sudah lama jualan siomay pak?”, “sejak 1992 pak” sahutnya singkat. Tertegun sih dengan jawaban beliau, demikian lamanya berjualan sekira 24 tahun konsisten di sektor per-siomay-an. “Bosnya orang mana pak” tanyaku lugu, “Sudah bikin sendiri pak kalau sekarang, soalnya dapet untungnya dikit dan semakin tidak mencukupi kalau ikut juragan lagi” demikian penjelasannya. “Bapak asli mana? merantau sendiri pak disini” cecarku dan diapun langsung menyahut “Saya asli Rengasdengklok pak, abis Cikarang lah posisinya. Dikampung saya pak rumahnya dan disini sendiri, anak dan istri saya dikampung mengurus sawah. Saya juga sering balik, paling tidak sebulan 2 kali balik ke kampung. Apalagi kalau musim panen atau musim tanam saya dikampung untuk bertani”.

 

“Trus anak bapak kok gk bantu disini atau kerja disini”, lanjut saya bertanya sambil trus menikmati potongan-potongan siomay karya bapak tersebut. “Anak saya masih sekolah di MAN pak cuman satu perempuan, Alhamdulillah berhijab dengan kesadaran sendiri dan ini baru mau ujian nasional. Entah kenapa dia lanjut sesi curhat “Saya sangat sayang sama dia makanya saya larang ke sini, takut ada apa-apa mendingan di kampung dan jadi orang kampung saja. Bapak tau lah gimana pergaulan disini…” ucapannya menggantung seakan ada rasa berat, rindu dan takut dari sosok seorang ayah.

 

Saya dalam hati mengamini ucapan beliau dengan kesimpulan pribadi…

“Biarkanlah bapak, dia jadi anak kampung, punya rasa malu akan umbar fisiknya, sederhana, berilmu dan beragama dengan benar, paham adat istiadat dan norma masyarakat, tidak berhuru-hara dengan kemajuan jaman yang sesat. Biarkanlah dia berhijab, biarkan sosok keperempuannya tetap terlindung, tanpa ada warna rambut menghias kepalanya yang tidak tertutupi, biarkan wajahnya tetap teduh tanpa hiasan menipu beraliskan pensil, biarkan kelak dia jadi ibu sebaik-baiknya…”