Testimoni Pemakaian Suzuki Inazuma GW 250

GW-250-1280-56a654373df78cf7728c6dec.jpg

Bismillah, salam bung,

Kali ini mau berbagi testimoni bagaimana rasanya berpartner dengan Suzuki Inazuma (kok berasa curcol ya bahasanya hahaha) anyway… lanjut bahas Inazuma, saya ambil Inazuma lebih karena saya suka motor bertype cruiser bau-bau touring dibanding sport, berbody sederhana gak banyak gimmick meski secara performa tentunya dibawah motor sport dan tentu alasan lain karena nyamannya. Motor ini saya angkut di kisaran tahun 2014 awal dari dealer suzuki Pondok Pinang, Jakarta Selatan yang didatangkan Suzuki Indonesia berstatus built up. Kalau membaca berbagai artikel lahirnya inazuma ini terinspirasi dari suzuki B-King, dan dipasarkan secara global dari Australia, Asia, Eropa dan Amerika dengan berbagai penamaan antara lain, Suzuki GW 250, Inazuma, GSR 250. Dengan alasan tambahan sebagai produk global inilah yang semakin yakin untuk ngangkut Inazuma.IMG_20160207_075059 edit.jpg

FISIK

Inazuma ini motor yang nampol beratnya untuk kelas 250cc, berkisar 182kg, dan saya pernah jadi korban “jatuh bego” pas pertama-tama bawa karena belum terbiasa dengan body dan beratnya. Ada beberapa solusi pengurangan berat antara lain penggunaan knalpot after market dan penggantian velg yang lebih ringan, walaupun gak signifikan berkurang namun lumayan lah. Sebenarnya berat inazuma ini dalam kondisi standar buat saya sudah nyaman, hanya butuh penyesuaian apabila berbelok, menopang saat diam, braking, memindahkan saat parkir dan lainnya terutama bagi pengguna baru yang baru naik kelas. Sewaktu perjalanan Jakarta-Lumajang di jalur pantura motor ini sangat amat stabil, tidak terasa getar mengganggu, sangat tolerable, didukung lendutan suspensi depan belakang kayaba yang lembut sangat menunjang pemakaian Inazuma untuk jarak jauh. Dengan ban depan berukuran 110/80-17 dan ban belakang 140/70-17 dipadu pengereman cakram keduanya menambah maksimalnya handling motor ini. Di beberapa area ada part yang kurang lazim ditemui di motor yang dipasarkan di Indonesia salah satunya di area suspensi depan, bagian atas bottom shock terdapat plat tebal yang dijadikan semacam bridge yang fungsinya mengarah ke stabilizer suspensi itu sendiri.

SUZUKI-GW250-Inazuma-6634_2.jpg

MESIN DAN PERFORMA

Mesin yang disandang cukup sederhana yaitu 248 cc 2 silinder fuel injectionpendingin cairanSOHC, 6 percepatan, berkompresi 11,5:1 lumayan ramah lah untuk BBM di indonesia. Dengan kapasitas tangki sekitar 13 liter, pengalaman konsumsi bahan bakar selama saya pakai di kisaran 1:25km-30km. Untuk performa motor ini sangat cukup buat saya yang lebih suka jalan santai yang dalam kondisi standar raihan powernya di 24 ps (23 dk) pada 8.500 rpm dan torsi maksimum 22 Nm di 6.500 rpm on crank. Dengan bekal mesin itu saja saya belum berani pol-polan maenin top speed, maklum cupu hehe. Kendala yang pernah saya alami berkaitan dengan mesin sewaktu touring ke Pacitan via Wonosari adalah thermostat mati, yang akibatnya sensor suhu radiator menyala terus. Sebenarnya rusaknya thermostat lebih karena sewaktu di daerah Banjarnegara terjebak macet parah gak gerak jadinya pendinginan radiator hanya dari kipas, dan alhasil setibanya di Yogyakarta termostat dilepas dan diganti sesampainya di Jakarta. Selain itu gak ada trouble lain dari sisi mesin selama pemakaian. Untuk penggunaan menginjak 5 tahun keatas, disarankan cek persoketan dan pengapian karena dengan banyaknya sensor tentu berpengaruh saat engine checking. Secara tampilan inazuma ini saya sukai secara desain karena dapat kesan gagahnya, mature, simple, elegan, sederhana, meski ada beberapa spot yang bisa dimaksimalkan semisal spakbor depan dibikin lebih kecil. Sorry buat yang butuh attention di lampu merah, jangan ambil motor ini. Dengan knalpot berkonfigurasi 2-1-2 dimana ditengah tertanam catalytic converter dan output 2 moncong semakin menambah kegantengan dan gagahnya motor ini. Oh iya jangkauan ke area kemudi lumayan jauh untuk standar orang indonesia, kalau dipakai perjalanan jauh lumayan berasa di lengan, hal ini bisa diakali dengan penggunaan raiser. Untuk perjalanan malam penggunaan lampu bertype H4 buat saya sangat mencukupi penerangan selama perjalanan, untuk tampilan speedometer dengan perpaduan analog dan digital sangat lengkap dan terbaca jelas bahkan di kecepatan tinggi.

IMG_20151225_083213.jpg

KESIMPULAN

Inazuma merupakan solusi buat pemotor yang mengutamakan kenyamanan, bicara performa nomor sekian. Dengan tersebarnya motor ini diberbagai benua menjadi produk global suzuki yang seharusnya tidak perlu khawatir akan keberadaan part, apalagi mau nimbrung diberbagai komunitas Suzuki Inazuma. Meski saat ini Suzuki Indonesia sudah tidak memasarkan produk ini, namun di negara lain masih dipasarkan jadi bisa disimpulkan ini merupakan produk yang bagus dan partnya masih banyak tersedia.

Salam

Image pribadi dan google

Advertisements

Modifikasi Honda GL 100

Assalamualaikum, salam…

Pada artikel ini saya mau berbagi spek kendaraan sehari-hari dan untuk touring saya, Honda GL 100 1989. Sedikit mengingat dulunya saya dapat kendaraan ini di daerah Jakarta Selatan daerah Jagakarsa dalam kondisi sehat utuh dengan identitas masih pemilik pertama.

IMG_20180624_073242.jpg

Merumput di kawasan Bromo

Oke mulai bahas spek mesin sendiri, untuk mesin sendiri secara umum masih standar dengan perubahan silinder blok ov 50 dan karburator dengan ventury lebih besar dari standar yang awalnya ⌀22 jadi ⌀24. Mesin sendiri sudah beberapa kali turun dan belah dari masalah paking bocor, ganti klep ato sekedar bebersih ruang bakar yang berkerak, dibantu teman dan bengkel komunitas di daerah Bogor dengan mas Sunaryo Muhyan, Jakarta dengan kakak Riko di Manggarai dan Anto di daerah Jembatan Lima, Karawang dengan mas Mukti Purwito (M-Plus), mas Oni di Malang. Sentuhan terakhir kali baru saja dikerjain di bengkel mas Andre D’Gass (The Most Recommended of Honda Kaizen Engine Technician… so far :D) yang berlokasi di daerah Sumber Pucung, Malang pas ganti as gir depan yang prothol botak dan akhirnya dilas mati sama gir depannya, sekalian rapih-rapih silinder head, ganti ring seher & porting saluran hisap dan buang. Alhamdulillah sekarang mesin enak dipakenya walaupun spek gak gahar-gahar amat dengan kubikasi masih di kisaran 105cm³, maklumlah saya lebih ke penikmat perjalanan jadi gk kenceng kalo jalan.

IMG_20181225_092912 edit.jpg

Beristirahat sejenak di kota tua Semarang

Selanjutnya urusan lain yang berubah adalah sektor kaki-kaki karena sudah tidak layak pakai seperti suspensi depan yang ganti sampai habis 2 set bekasan GL 100 karena barunya susaaaahhh, trus rem depan kalipernya sudah tidak bisa distel sedangkan rem belakang bagian tromol atau drumnya sudah legok/ngantong jadi sudah tidak bisa di stel juga. Untuk urusan kaki-kaki ini saya rombak total dengan produk dari suzuki kecuali ban hehe , antara lain: suspensi depan ganti total pakai punya satria FU FI 150 termasuk spakbor, velg depan belakang ganti pake punya suzuki axelo komplit, pengereman depan pakai punya skywave komplit atas bawah, pengereman belakang pakai suzuki axelo komplit, footpeg penumpang pakai punya shogun 110, swing arm pakai punya suzuki axelo dan terakhir shock breaker belakang pakai punya suzuki smash gen awal karena menyesuaikan swing arm axelo yang lebih panjang dibandingkan standar GL100. Penggunaan swing arm panjang sendiri juga sengaja karena tujuan saya lebih ke lendutan roda belakang yang lebih lembut dan empuk tentunya, maklum betah nglayap diatas motor :D, Untuk ban sendiri saya suka yang bertipe dual purpose karena lebih fungsional saja kalo pas dijalan, setelah hunting dan baca berbagai review dipilihlah Swallow SB 117 street enduro dengan ukuran 80/90-17 depan dan 90/90-17 bagian belakang. Pemilihan profil 80/90 dan 90/90 karena ngejar tinggi ban supaya lebih nyaman meredam benturan dan getaran… so far puassssss.

IMG_20190106_183558.jpg

Merasakan mulusnya jalan protokol Kawasan Thamrin Jakarta

Untuk pemasangan sendiri kurang lebih bisa saya jabarkan sebagai berikut, suspensi depan lebih kecil 1mm dari bawaan GL 100 yang berdiameter ⌀27 jadi dipasang bos agar bisa anteng kejepit segitiga. Untuk segitiga sendiri masih pakai bawaan GL 100 karena lebih mudah pas pemasangan spidometer tanpa perlu modifikasi braket dudukan spidometer apabila pake segitiga satria FU FI. Lanjut ke velg depan dilakukan papras sebelah kiri bagian as karena segitiga GL 100 lebih sempit dibanding total lebar as velg axelo, untuk kaki-kaki belakang tanpa banyak perubahan malah bisa dibilang plug and play karena lebar pangkal swing arm sama persis dengan dudukan as arm di rangka GL 100 standar, alhamdulillah gak pake gerinda-gerindaan :). Yang sedikit bermasalah sebenarnya ada pada panjang swing arm karena begitu kita mau atur kekencangan rantai, kaliper belakang akan mentok pada batang bawah shock breaker. Kedepannya rencana mau potong arm menyesuaikan panjang bawaan GL 100, dan tentu konsekuensinya ganti shock breaker lagi dengan yang lebih pendek.

IMG_20190309_081912 edit.jpg

Menikmati sunrise di Cukul Pangalengan

Untuk pengapian dan kelistrikan sendiri masih bawaan GL 100 dengan perubahan hanya pada lampu dengan penggunaan led pada bagian belakang dan penggantian reflektor depan dengan punya isuzu elf yang menggunakan soket H4. Sewaktu penggantian lampu depan ini tidak susah karena dimensi reflektor isuzu elf serupa dengan punya GL 100, hanya pada gl 100 bagian bawah sedikit melebar sekian mm. Untuk kaca depan masih pakai punya GL 100 karena bentuknya yang jadi kekhasan dari sendiri dan direkatkan pada reflektor isuzu elf menggunakan sealant hi temp.

Demikian kurang lebih yang saya rombak pada motor tunggangan saya sehari-hari ini.

Enjoy.

IMG_20180826_152356.jpg

Habis nanjak di daerah pacet istirahat di Cangar, Malang

Touring Motor ke Cukul Sunrise Point dengan GL 100

Assalamualaikum, hi Bung,

Single touring kali ini dengan niatan silaturahmi ke temen-temen di Bandung sekalian ke spot liat matahari terbit yang setaun belakangan happening, Cukul Sunrise Point atau disebut juga Puncak Giri. Starting point dari Kemang, Jakarta Selatan Jumat malem sekelarnya kerjaan kantor di jam 10.00 malem betot gas Jaran Ireng (sebutan GL 100 CDI saya :D) dengan santai menyusuri rute Kemang, Pasar Minggu, Margonda Depok lanjut kiri jalan baru tembur jalan raya Bogor ke kanan arah Cibinong tembus perempatan sebelum Jambu Dua Bogor. Sempat berenti buat isi bensin dan cek-cek ulang rante dan lainnya di daerah Tanjung Barat buat bekel jalan biar gak berhenti-berhenti lagi.

Kisaran jam 11.30 malem udah masuk Bogor dengan kondisi sepanjang jalan gak semacet pas wiken, Alhamdulillah. Dari Bogor hajar throttle arah puncak dengan tikungan-tikungan yang ‘maksa’ saya full cornering sepanjang jalur arah puncak dengan jaran ireng lansiran 1989 yang kebetulannya seperti saya bilang tadi, jalanannya gak macet dan gak hujan #menyenangkan. Kisaran jam 12.00 tengah malem  udah diposisi sebelum puncak pas dekat spot foto-foto di kebon teh yang ada gapura perbatasan, istirahatin badan dan sekalian ngedingin mesin sekitar 5 menit dengan kondisi daerah puncak yang dinginnya ‘PAS’.

IMG_20190309_001554 edit.jpg

Puncak jam 12 malam

Setelah dirasa cukup istirahatnya, lanjut jalan arah Bandung. Jalurnya lewat jalur mainstream yaitu Puncak, Cipanas, Cianjur, Cipatat, Citatah dengan bukit2 kapurnya, Padalarang, Cimahi. Sampai Cimahi kisaran jam 02.00 istirahat sebentar di pom Bensin Cisangkan sekalian kontak teman yang rencana juga mau bareng ke Cukul, setelah istirahat ngopi dan ngobrol-ngobrol jam 03.30 lanjut jalan arah bandung kota menemui teman lain di Katapang dan Banjaran yang ternyata juga mau ke Cukul barengan. Pas Adzan Subuh nunggu teman di pertigaan Banjaran pasnya di pom Bensin sekalian Subuhan.

Selepas dari pom Banjaran dan beres urusan semua lanjut gas ke Cukul via jalan raya Pangalengan dengan jalur, Cimaung, bunderan Pangalengan ke kanan, Setu Cileunca lanjut arah Cukul Sunrise Point. Karena jalur cuman itu-itu aja jadi sebenernya gak susah ke arah tujuan, paling pas di pertigaan bunderan Pangalengan yang kita ambil jalur kanan arah Situ Cileunca-Cukul. Setelah perjalanan gak sampai 2 jam dari Bandung ke Cukul kita sudah bisa sampai di Sunrise Point.

Oh iya, selama perjalanan berangkat sebenarnya gak kena hujan cuman karena kondisi jalanan yang lembab dan dingin jadi basah, dan sempet beberapa kali ngegeol di tikungan bahkan salah satu teman jatuh terpeleset jalanan yang licin tadi, so… hati-hati Bung.

Setelah sampai di Cukul Sunrise Point akses masuknya ada di samping danau berbunga teratai indah depan villa kuno yang katanya villa peninggalan Jerman. Untuk biaya masuk dikenakan parkir permotor Rp3.000/motor dan masuk ke titik lihat matahari terbit Rp10.000/orang.

IMG_20190309_081912 edit.jpg

Villa Jerman dengan danau didepannya

Sepanjang perjalanan selepas situ Cileunca kita disuguhi pemandangan indah hamparan perkebunan teh dan jalan full cornering dan kondisi yang bisa dibilang bagus, setelah masuk dari depan vila Jerman ke parkiran jaraknya kurang lebih 200 meter dengan kondisi jalan masih berbatu jadi jalan pelan-pelan saja. Setelah sampai diparkiran usahakan kondisi motor di kunci ganda buat jaga-jaga walaupun kondisi parkiran ada penjaga karena posisi Cukul Sunrise Point masih naik sekitar +/-50 meter. Setelah membayar tiket masuk kita naik sedikit beberapa anak tangga menuju titik lihat Sunrise  dengan fasilitas yang lumayan lengkap termasuk warung kopi dan kita bisa memilih beberapa posisi yang sudah tersedia dan langsung disuguhkan view hamparan perkebunan teh dengan perbukitan yang indah nan hijau, dan semburat cahaya matahari yang perlahan naik. Alhamdulillahnya lagi semesta mendukung daaaan… Masyaallah indahnya Bung.

Berikut foto-foto di lokasi Cukul Sunrise Point dan disekitarnya.

IMG_20190309_080623 edit.jpg

Cukul Sunrise Point

IMG_20190309_061537 edit.jpg

Cukul Sunrise Point

IMG_20190309_063243.jpg

Cukul Sunrise Point

IMG_20190309_083048 edit.jpg

Pemetik pucuk teh

IMG_20190309_082843 edit.jpg

Dibawah Cukul Sunrise Point

Setelah puas di Cukul Sunrise Point, rute pulang mampir ke Situ Cileunca. Disini kita tidur dan sarapan, oh iya di situ Cileunca terdapat beberapa warung makan lengkap dengan saung di tepi Situ dan pas turun arah bandung ada beberapa toko oleh-oleh serta semacam koperasi unit usaha buat beli buah tangan. Untuk rute balik ke Jakarta kurang lebih sama dengan jalur berangkat tentunya kebalikannya, dengan sedikit diselingi hujan dibeberapa daerah.

IMG_20190309_093149 edit.jpg

Situ Cileunca, Pangalengan

Catatan tambahan Bung, buat yang berangkat kesana sekiranya tetap jaga kebersihan, jaga sikap dan tidak arogan sepanjang jalan.

Salam.

Under Sky of Java (1.328km)

Jawa Barat (359km)

Assalamualaikum, salam semua.
Touring ala saya kali ini dengan rute Jakarta Barat-Malang mengendarai Honda GL100 tahun 1989. Berangkat dari Jakarta Barat hari Jumat (11 Mei 2018) jam 22.00 ke arah Bogor via Pondok Cabe-Parung dan sampai tkp jam 24.00 untuk ketemu saudara KMHGL Bogor dan teman Jakarta lainnya. Jalur Jakarta Bogor jam segitu relatif lancar dengan kondisi jalanan secara umum mulus hanya beberapa jalur yang bumpy/tambalan bahkan berlubang seperti daerah depan ex terminal Lebak Bulus, Pondok Cabe, Parung-Kemang, Salabenda ke Cimanggu. Lanjut berangkat arah Bandung via puncak jam 01.00 yang dinginnya ampun²an diantar om Dhika fauzan bercelana kolor (edun pisan) sampe puncak pass.

Lanjut sendirian dari Puncak arah bandung dengan badan mengkeret dan jari lumayan kaku karena kedinginan sampai Cianjur, lepas Cianjur arah Cipatat sudah lumayan hangat walaupun ya tetep dingin 😥. Traffic lancar hanya pelan dibeberapa tempat seperti bekas longsor dibawah Puncak Pass arah Cianjur, dan jalanan bumpy di Cipatat selepas Cianjur, banyaknya truk dan jalanan yang bumpy di tanjakan kawasan Citatah arah Padalarang. Sampai padalarang pas Shubuh langsung ishoma bermenu bubur ayam khas Sunda. Karena kurangnya tidur alhasil yang harusnya bisa sampai Bandung subuh akhirnya molor sampai jam 8 karena banyakan istirahat dibanding jalannya 😅, termasuk salah satunya istirahat di Cimahi karena jalannya motor udah mereng-mereng karena ngantuk 😪. Selesai istirahat bentar tanpa bisa merem lanjut masuk Bandung langsung hajar lewat By Pass arah Nagrek dengan kecepatan penuh tapi gk bisa karena kebanyakan persimpangan bertraffic light 😄. Udah aja serangan kantuk terussss datang, dan istirahatlah lagi sekalian ngopi di warkop sebelah pom bensin Shell sekalian isi full tank Shell Super. Sedikit tips dari teteh penyeduh kopi, kl darurat ngantuk adanya kopi sachet-an, udah aja seduh tapi jangan diaduk… Yah lumayan emang bantu melek mata 😳.

Selepas Bandung kejebak macet di Cileunyi ampun²an tapi arah Cicalengka udah aman terkendali. Sesampai Cicalengka istirahat sambil ganti oli motor lanjut lagi arah Nagrek. Jalur dari Bandung sampai Nagrek tergolong lancar dan oke.

Sampai Nagrek perjalanan gak lewat Ciawi tapi ambil kanan arah Garut karena pengen lewat selatan, jalanan Nagrek-Garut banyak bumpy dan berkelok khas jalur perbukitan. Jalanan yang diapit sama Gunung Galunggung dan Gunung Cikuray ini lumayan teduh tapi lebih sip lagi kl aspalnya halus khas Wonosari arah pacitan. Sampai garut tengah hari yang panasnya ampun²an, disambi makan kue apem bekel dari temen² Bogor sambil banyakin minum air putih tentunya.

Lanjut dari Garut arah ke Tasik via Singaparna, jalurnya kurang lebih sama banyak nemu bumpy sepanjang jalan. Suspensi belakang sepanjang 360mm lumayan membantu, belum lagi swing arm lebih panjang sekitar 60mm lebih lembut ayunannya jadi tidak membuat badan lekas capek dihajar jalanan yang begajulan. Jalur Garut-Tasik didominasi kelokan cilukba yang gak terlalu nekuk, jadi masih bisa diatasi dengan santai. Beda dengan jalur Pacitan-Trenggalek (detil di cerita berikutnya). Selepas Salawu arah Singaparna istirahat di The Famous Restaurant buat anak² Jabodetabek 😏, yaitu RM M Agni. Rumah makan ini tentunya khas Sunda dengan saung² diatas kolam dan lalapan yang hadir di tiap meja. Saya memesan makanan yang aneh menurut saya, yaitu oseng kluwek muda+oseng leunca dengan bumbu kelapa+ayam goreng+lalapan dan asupan karbo dari bihun minus nasi maklumin yah lagi sok²an diet Keto hahaha 😝.

Selesai menunaikan kewajiban buat anak Touring Jabodetabek di RM Agni, langsung hajar Tasikmalaya. Dan touch down di Manon Jaya sekira pukul 15.00 sudah menunggu kang Aep Saefuloh dari Tasik dan kang Husni Fahmi dari Ciamis. Udah deh istirahat+mandi² di tempat kang Aep sampai lepas maghrib. Lanjut perjalanan ke Banjar dianter kang Aep sekalian ditraktir mi Ayam home made enak bingit di tengah kota Banjar yang ternyata masih familynya. Jalan dari Manon Jaya ke Banjar juga perbukitan, naik turun dan berkelok. Kemampuan lampu utama yang sudah dimodif pakai reflektor isuzu elf teruji, jadinya terang banget dan sayapun puassss. Selesai makan kang Aep lanjut anter sampai perbatasan Jabar-Jateng mentok sampai Pom Bensin di jalan Banjar-Majenang sebelum tugu perbatasan sekitar pukul 22.00. Demikian catper buat Jabar.

Jawa Tengah-Jawa Timur (Majenang-Purwokerto-Wonosobo-Dieng-Muntilan-Sleman-Yogya-Wonosari-Pacitan-Treanggalek-Tulungagung-Blitar-Malang-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang-Malang sejauh 969 km)

Lanjut setelah dilepas kang Aep, hajar throttle arah purwokerto melewati kawasan Majenang. Jalur Banjar-Purwokerto awalnya lurus-lurus saja dan berkelok menjelang memasuki kota Purwokerto, untuk kondisi jalanan sendiri secara umum baik dengan selingan bumpy. Jalanan sebelum Puwokerto didominasi kawasan perhutanan dengan penerangan jalan sangat minim terutama beberapa puluh kilometer sebelum Ajibarang, dan ini sangat terasa apabila melakukan perjalanan malam so… siapkan penerangan motor sebaik mungkin. Sampai di Puwokerto hampir pukul 1 malam dan istirahat selepas pusat kota dengan mampir disebuah warung angkringan didaerah Sokaraja memesan kopi hitam kental sembari ngobrol dengan suami istri pemilik warung. Selesai istirahat sekitar 30 menit lanjut arah Wonosobo selepas Sokaraja melalui jalan pintas yang menurut saya kondisinya bagus. Jalur ini lumayan ‘potong kompas’ arah ke Banjarnegara sedangkan kondisi jalanannya secara umum bagus dan lurus-lurus saja jadi lumayan bikin ngantuk 😪. Selepas Banjarnegara lanjut hajar arah Dieng-Wonosobo dengan target meniomati Sunrise di bukit Sikunir, jalur ini didominasi tanjakan dengan kawasan hutan yang semakin lama semakin dingin seiring ketinggian wilayah yang dicapai. Pas adzan Subuh Jaran Ireng sudah masuk kawasan Dieng dan beristirahat sekalian subuhan di daerah Kejajar. Setelah itu lanjut mengejar sunrise bukit Sikunir namun sayang karena dipikir motor bisa langsung keatas sampai tempat melihat sunrise ternyata harus naik bukit lagi selama kurang lebih 30 menit, alhasil kesiangan 😢 sialnya lagi hape rusak setibanya di Malang jadi semua foto dan video selama diperjalanan hilang 😖.

Oh iya untuk kondisi jalan sendiri dari Wonosobo arah Dieng bisa dikatakan baik kalaupun ada rusak hanya ditemukan dibeberapa tempat tapi ditebus dengan indahnya pemandangan wilayah Dieng. Kisaran jam 8 pagi setelah sunrise yang kesiangan lanjut gas ke rumah mas Fakih Amrulloh di daerah Dieng juga guna silaturahmi sekaligus istirahat.

Ngumpul makan bareng depan Anglo

Setelah ngobrol bersama mas Fakih dan saudara-saudara lainnya datang juga mas Katno teman Facebook yang pernah bersua di Baturraden sekira 2015 saya lanjut istirahat dengan harapan selepas ashar bisa lanjut perjalanan. Walhasil kebablasan tidur sampai jam 5 sore saking pulesnya ditambah hawa Dieng yang dingin menyejukkan. Dan akhirnya yaaa molor setelah maghrib baru berangkat guna lanjut touring arah Pacitan hehe. Sekitar jam 19.00 berangkat dari kediaman mas Fakih balik turun arah Wonosobo, selepas Wonosobo di pertigaan Kertek lurus saja jadi ambil jalan pintas tidak melewati kota Temanggung bisa langsung tembus Muntilan. Jalur Bondowoso-Muntilan lebarnya 2 mobil pas dan juga berkelok-kelok dengan kondisi jalanan yang baik. Sebelum masuk kota Muntilan istirahat rebahan di warung angkringan sembari memesan kopi jahe dan ngobrol dengan pemiliknya seorang bapak yang ramah membahas Honda GL hehe. Setelah istirahat sekitar 1 jam lanjut sekitar jam 10an malam, bablas arah Sleman. Setiba di Sleman isi bensin sambil istirahat sebentar dan lanjut arah Pacitan via Wonosari. Arah Pacitan ini saya tempuh lewat jalan Magelang-Purworejo, Depok, Wonosari, Pracimantoro dan istirahat sekalian silaturahmi dengan teman didaerah Punung (Pacitan). Jalur ini bisa saya katakan sebagai jalur terbaik dan terrekomendasi buat pelaku touring, jalurnya lebar-mulus dengan marka jalan yang jelas. Walaupun sepi dan berkelok dengan tikungan cilukba dibanyak tempat tapi sangat OK. Hanya selepas Wonosari arah Pracimantoro sedikit spooky 😱 gak tau kenapa berasa demikian. Dan sampai di Punung pas Subuh dan lanjut ke kediaman teman. Selesai silaturahmi ngobrol² panjang lebar lanjut masuk Pacitan kota dan ambil kanan arah lorok yang tembus Trenggalek, jadi tidak lewat Ponorogo. Jalur ini berliku dan sepi dengan kualitas jalan yang bervariasi, lepas Pacitan jalanan bagus sampai sekitar 10km dan memulai jalur berkelok namun masih aman. Selepas itu baru jalanan mulai menyempit dengan kualitas jalanan yang campur bergelombang sampai panggul. Berhenti di Panggul guna isi Bensin dan ini satu-satunya pom bensin sejauh 170an km dari Pacitan sampai Trenggalek. Selepas Panggul jalanan menguji adrenaline dengan tanjakan berkelok, sempit dan kondisi jalanan yang rusak sejauh kira-kira 5km selepas itu jalanan lumayan baik namun naik turun dan belokan cilukba yang bertubi-tubi. Bukan hanya 90° bahkan ada yang putar balik (U turn) tentu kemampuan kendaraan diuji disini, alhamdulillah amaaaannnnn 😎.

PLTU Pacitan

Sampai di Trenggalek sudah malam kisaran jam 20.00 dengan kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai hanya barengan dengan truk-truk jalur selatan dan apesnya jalanan selepas Trenggalek-Tulunggagung sorry to say… Remuk parahh sampai motor kena lobang besar di tengah jalan dan terpental, alhamdulillah tidak sampai terjatuh. Tulungagung-Blitar jalur aman, lancar dan jalanan juga OK… Kebanyakan hanya lurus saja dan akhirnya touch down di alun-alun Blitar jam 21.30 buat makan dan istirahat. Jam 22.00 lanjut malang via Kepanjen dengan kondisi jalanan yang so-so dengan Tulungagung-Blitar. Kondisi jalanan juga sepi karena sudah malam dan sampai rumah passss jam 24.00. setelah istirahat besoknya lanjut urus surat mutasi GL 100 ke Lumajang via Pasuruan-Probolinggo. Jalur ini kondisinya khas JawaTimur lumayan baik namun bergelombang. Dibeberapa lokasi ada kerusakan seperti di jalur pintas selepas warung dowo ke kanan tembus terminal Pasuruan, dan bumpy maksimal sebelum masuk Klakah Lumajang. Setelah sampai di Samsat Lumajang sekitar jam 10.00 dan selesai urusan samsat istirahat di rumah orang tua, sekitar jam 14.00 kembali ke Malang via Ranu Pane-Tumpang antara gunung Bromo dan Semeru. Jalur ini dari arah Lumajang menanjak, berkelok dengan kualitas aspal yang baik. Ada kerusakan jalan sedikit begitu turun arah Tumpang Malang sekitar 500m, untuk Jalur ini sangat direkomendasikan jalannya pagi sampai sore karena banyak kelokan, masuk hutan rimbun dan tepian jurang walaupun kualitas jalanan baik. Dan tentu kalau jalan pas malam hari tidak bisa menikmati indahnya lautan pasir dan kawah Bromo 😍. Selain indahnya pemandangan sepanjang jalan jalur ini juga menyingkat waktu perjalanan sampai hanya 2 jam++,dibanding via Probolinggo atau jalur selatan tembus Kepanjen.

Demikian catatan perjalanan ‘petualangan’ touring Jakarta Malang ini. Salam.

Image golden sunrise bukit Sikunir dan PLTU Pacitan ambil di Google

Motor…

Motor… ya motor, di daerah asal saya lebih dikenal dengan sebutan sepeda montor atau sepeda saja. Gak tau kenapa alat transportasi satu ini kok lengket bener di hati, terhitung dari usia kisaran 13 tahun saya mulai mengenal dan bawa kendaraan ini. Mulai dari motor rilis 70-an sampe yang baru-baru sudah saya cicipi :), pas SMP motor pertama yang dipercaya ortu buat dibawa itu Honda Grand Black Impressa walaupun yang nyolong-nyolong bawanya juga ada beberapa hehe. Abis itu Ayah beli Trail Yamaha Enduro DT100X rilisan tahun 1979 pas kisaran kelas 3 SMP, maklum kondisi jalanan di desa saya lebih pas buat motor yang type enduro, inget banget pas pulang sekolah mbonceng adik bawa trail itu sampe ngguling dilumpur pas jalanan abis ujan. Bener-bener butuh skill mumpuni buat naklukin jalanan pas itu.

Pas SMA motor trus berganti dari yang inventaris ORTU sampe tukeran ama temen, mulai dari Yamaha Crypton, Honda Tiger, Yamaha TZM, Honda NSR, Supra X, Suzuki Crystal, Kawasaki Kaze sampe sepeda pancal (gowessss) 😀

Yah kira-kira begitulah pas awal-awalnya, sampe sekarangpun masih setia dengan motor matic keluaran Suzuki lansiran 2010, dan ini lagi pengen yang baru dan bukan mobil malah motor lagi #tepokjidat

Tagline ini pas banget kayaknya buat saya, atau lebih pasnya sebuah kutukan hehe

live to ride-ride to live

Gambar