Menafikkan orang lain

Salam… 

Terkadang ketika kita ada di satu posisi yang lebih baik, timbul lupa seringkali dianggap mahfum. Namun apabila sudah bercampur dengan ego dan dendam maka hal itu sangat merugikan, baik dari sisi sendiri maupun sesama. Bahkan dari percampuran tadi bisa muncul sikap hilangnya empati bahkan menafikkan orang lain. 

Bung kenapa ada preambul tersebut? Karena saya mengalaminya. Bukan sebagai pelaku, bukan korban hanyalah sekedar saksi… , dan saksi itu lebih bisa berpendapat netral karena tanpa ada distorsi akibat ego merasa paling benarnya pelaku atau rasa tertekan dari korban.

Sungguh rugi apabila komposisi dari posisi “berkuasa” ditambah ego dan diberi topping dendam terus dilakukan dan dinikmati, tanpa sadar kita sudah mencoreng kotor muka sendiri. Dan nantinya baru merasa kapok dan sadar apabila bertukar posisi sebagai korban atau orang sekitar sudah menjauhi karena ulah sikapnya sendiri.

Tidak nyaman… Itulah yang dirasa pasti oleh sekitarannya, risih tentu saja. Namun ketika komposisi tadi sudah bercampur sempurna susah, susah sekali untuk kembali normal. Ah, kita ini kecil sekali, apa sih yang pantas kita banggakan, TIDAK ADA.

Naudzubillah, jauhkan saya dari sikap antipati, hilang empati, acuh, merasa berkuasa, pendendam, merasa benar dan menafikkan orang lain. Amin. 
#selfreminder

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s