BIARKAN WAJAHNYA TEDUH TAK BERALIS PENSIL

 

Semakin bertambahnya usia membuat kita semakin sadar kekurangan diri, semakin mawas diri, semakin bersahaja, semakin memahami apa sebenar-benarnya hal hakiki yang kita cari selama ini. Tentu dengan dasar keilmuan, pengetahuan keagamaan, pengalaman hidup serta cambukan peristiwa yang tidak menyenangkan semakin membakukan hal tersebut.

 

Suatu malam saya masih sibuk dengan hobby dan juga mengisi waktu diteras rumah, kisaran waktu pukul 21.30 terus berjalan tidak terasa dan terlupa saya acuhkan keadaan perut yang kosong. Sampai ada bunyi penjual siomay keliling dengan sepeda kayuhnya lewat sehingga menyadarkan diri akan kosongnya perut yang belum terisi. Sayapun pesan seporsi dagangannya, dengan semangat beliau melayani pesanan saya hingga hidangan siap disajikan ke saya, tidak menunggu lama untuk memulai suapan pertama irisan pare pahit sebagai pembuka.

 

Guna mencairkan suasana di malam yang mulai sepi tersebut saya mulai membuka pembicaraan dengan posisi bapak penjual somay yang sibuk membenarkan posisi berdiri sepedanya. “Bapak sudah lama jualan siomay pak?”, “sejak 1992 pak” sahutnya singkat. Tertegun sih dengan jawaban beliau, demikian lamanya berjualan sekira 24 tahun konsisten di sektor per-siomay-an. “Bosnya orang mana pak” tanyaku lugu, “Sudah bikin sendiri pak kalau sekarang, soalnya dapet untungnya dikit dan semakin tidak mencukupi kalau ikut juragan lagi” demikian penjelasannya. “Bapak asli mana? merantau sendiri pak disini” cecarku dan diapun langsung menyahut “Saya asli Rengasdengklok pak, abis Cikarang lah posisinya. Dikampung saya pak rumahnya dan disini sendiri, anak dan istri saya dikampung mengurus sawah. Saya juga sering balik, paling tidak sebulan 2 kali balik ke kampung. Apalagi kalau musim panen atau musim tanam saya dikampung untuk bertani”.

 

“Trus anak bapak kok gk bantu disini atau kerja disini”, lanjut saya bertanya sambil trus menikmati potongan-potongan siomay karya bapak tersebut. “Anak saya masih sekolah di MAN pak cuman satu perempuan, Alhamdulillah berhijab dengan kesadaran sendiri dan ini baru mau ujian nasional. Entah kenapa dia lanjut sesi curhat “Saya sangat sayang sama dia makanya saya larang ke sini, takut ada apa-apa mendingan di kampung dan jadi orang kampung saja. Bapak tau lah gimana pergaulan disini…” ucapannya menggantung seakan ada rasa berat, rindu dan takut dari sosok seorang ayah.

 

Saya dalam hati mengamini ucapan beliau dengan kesimpulan pribadi…

“Biarkanlah bapak, dia jadi anak kampung, punya rasa malu akan umbar fisiknya, sederhana, berilmu dan beragama dengan benar, paham adat istiadat dan norma masyarakat, tidak berhuru-hara dengan kemajuan jaman yang sesat. Biarkanlah dia berhijab, biarkan sosok keperempuannya tetap terlindung, tanpa ada warna rambut menghias kepalanya yang tidak tertutupi, biarkan wajahnya tetap teduh tanpa hiasan menipu beraliskan pensil, biarkan kelak dia jadi ibu sebaik-baiknya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s